Mencapai puncak gunung???? wuiiihh, pasti akan menyenangkan sekali, ya pastinya untuk orang-orang yang memang menyukai hobby ini, tapi sayangnya tak semua orang dapat melakukan hal ini, tak semua orang memiliki kesempatan tersebut, menikmati keindahan melalui puncak gunung.
Setelah setiap tahun memiliki rutinitas aktivitas di alam bebas, tak lengkap rasanya jika tahun ini tak menjalani aktivitas tersebut. Saat tawaran itu datang, serta merta ia pun langsung menyambutnya, hanya kali ini ada yang berbeda, jika dahulu ia hanya perlu izin dari orang tuanya, kini ada seseorang lagi yang harus ia dapatkan izinnya.. kekasihnya alias suaminya, karena tak mungkin ia berani berangkat jika pria yang selalu mendampinginya tak mengizinkan.
Pucuk di cita ulam tiba, suami yang mempunyai hobby sama pun mengizinkan asalkan ada kawan perempuannya yang menemani karena sang suami tak dapat ikut serta.
Rona gembira itup meredup, karena tak ada seorangpun sahabat dan kawannya yang dapat ikut serta dalam pendakian tersebut. Karena tak tega dengan sang istri yang begitu gembira dengan rencana pendakian ini, akhirnya sang suami bersedia mendampingi, mereka berduapun mendaftarkan diri sebagai peserta pendakian.
Uasaha telah dilakukan, niat telah dikuatkan namun apadaya jika sang kholik tak berkehendak, sehari menjelang pendakian sang suami jatuh sakit, kondisi adiknya yang sedang sakit pun semakin parah, rencana pendakianpun gagal, impiannya hanya tinggal impian. Kesibukan merawat dan mendampingi orang-orang tercinta yang tengah sakit mampu melupakan pendakian tersabut.
Satu minggu telah berlalu... Sang suamipun telah pulih seperti sedia kala, kini seakan bergantian ia yang merasakan kesehatan ada yang tadak biasa, kesehatan seakan manurun, "Hhhmm.. pakah penyakit suamiku menular?" batinnya bergumam, " tapi gak mungkin masa sakit kayak gini menular" sergahnya... Tapi kian hari semakin terasa, ia mulai curiga mirip seperti gajala di buku yang pernah dibacanya, semakin curiga kala "tamu" belum kunjung datang pada waktunya. Dalam harap-harap cemas ia cari tahu dengan melakukan test. Subhanallah... Positif hamil...
Kekecewaan karena gagal mendaki kini menjadi hal yang sangat di syukuri, tak bisa dibayangkan bagaimana jika saat itu ia berangkat mendaki gunung dalam keadaan hamil... MAHA SEMPURNA ALLAH DENGAN SEGALA SKENARIONYA...
Sekolah kehidupan ini memiliki begitu banyak guru yang mengajarkan berbagai pelajaran hidup. Sebuah pembelajaran yang tak pernah mengenal kata akhir sampai "saatnya tiba",bagi orang-orang yang membuka hati untuk mengambil pelajaran dari setiap episode perjalanan hidupnya
Kamis, 16 Februari 2012
Jumat, 11 Maret 2011
PEJUANG SENJA
Ada yang menggangu dalam batin saya, anak-anak muda yang secara fisik tak ada kekurangan, anak-anak muda yang terlihat masih segar (seharusnya), memiliki banyak kesempatan dan juga potensi namun harus 'bergentayangan' di jalan meminta-minta.
Profesi yang menurut mereka adalah perlawanan atas kemapanan, protes ketidaksukaan terhadap kondisi yang ada, ketidak adilan...
Entahlah, apapun argumentasi untuk pembenaran tersebut saya tak akan membahasnya, namun pemandangan tersebut menggelitik saya untuk merangkai kata-kata ini, saya teringat pada seorang kakek di Pasar Reni Jaya, Pamulang.
Kakek yang saya sebut sebagai seorang pejuang senja. Ya, di usia beliau yang senja nampaknya beliau tak ingin berpangku tangan mengharap belas kasih orang lain.
Saat itu, jam masih berada di pukul 04.30 wib. Ada keperluan yang sulit saya dapatkan di sekitar rumah, berangkatlah saya ke pasar Reni Jaya, pasar yang letaknya paling dekat dari rumah dibandingkan parsar-pasar lainnya (menurut saya).
Sepi... Tak terlalu ramai, karena masih pagi tak banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, hanya beberapa orang. Tampak di depan mushola ada seorang yang sedang menata barang dagangannya, sambil jalan tertatih-tatih, ia membungkuk mengambil rempah-rempah lalu berdiri meletakkan rempah-rempah tersebut pada gerobak dagangannya.
Masya Allah... sudah sangat sepuh (yang saya lihat) namun luar biasa, pagi-pagi seperti ini beliau sudah siap 'berjuang', entah jam berapa beliau meinggalkan ranjang dimana (mungkin) banyak orang masih asyik terlelap, bahkan tak sedikit yang tak sadar dengan panggilan adzan shubuh.
Subhanallah... Kakek yang hebat!
Yang terbersit dalam batin saya, beliau bisa saja hidup lebih santai, diusia beliau yang sudah sepuh ada anak-anak atau cucu yang bisa saja membantu beliau, tak harus bersusah payah pagi gelap dan dingin seperti ini, berada di pasar...
Lagi-lagi hati saya hanya bisa berucap kakek yang luar biasa! Hebat! Subhanallah...
Ya Allah...
Berkahilah usia beliau...
Ya Rabb...
Berkahi kehidupan beliau...
Ya Rozzak...
Lapangkan rezeki beliau...
Ya Rahman ya Rahim...
Sayangi beliau dan balaslah segala perjuangan beliau dengan sebaik-baik balasan...
Aamiin...
Profesi yang menurut mereka adalah perlawanan atas kemapanan, protes ketidaksukaan terhadap kondisi yang ada, ketidak adilan...
Entahlah, apapun argumentasi untuk pembenaran tersebut saya tak akan membahasnya, namun pemandangan tersebut menggelitik saya untuk merangkai kata-kata ini, saya teringat pada seorang kakek di Pasar Reni Jaya, Pamulang.
Kakek yang saya sebut sebagai seorang pejuang senja. Ya, di usia beliau yang senja nampaknya beliau tak ingin berpangku tangan mengharap belas kasih orang lain.
Saat itu, jam masih berada di pukul 04.30 wib. Ada keperluan yang sulit saya dapatkan di sekitar rumah, berangkatlah saya ke pasar Reni Jaya, pasar yang letaknya paling dekat dari rumah dibandingkan parsar-pasar lainnya (menurut saya).
Sepi... Tak terlalu ramai, karena masih pagi tak banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, hanya beberapa orang. Tampak di depan mushola ada seorang yang sedang menata barang dagangannya, sambil jalan tertatih-tatih, ia membungkuk mengambil rempah-rempah lalu berdiri meletakkan rempah-rempah tersebut pada gerobak dagangannya.
Masya Allah... sudah sangat sepuh (yang saya lihat) namun luar biasa, pagi-pagi seperti ini beliau sudah siap 'berjuang', entah jam berapa beliau meinggalkan ranjang dimana (mungkin) banyak orang masih asyik terlelap, bahkan tak sedikit yang tak sadar dengan panggilan adzan shubuh.
Subhanallah... Kakek yang hebat!
Yang terbersit dalam batin saya, beliau bisa saja hidup lebih santai, diusia beliau yang sudah sepuh ada anak-anak atau cucu yang bisa saja membantu beliau, tak harus bersusah payah pagi gelap dan dingin seperti ini, berada di pasar...
Lagi-lagi hati saya hanya bisa berucap kakek yang luar biasa! Hebat! Subhanallah...
Ya Allah...
Berkahilah usia beliau...
Ya Rabb...
Berkahi kehidupan beliau...
Ya Rozzak...
Lapangkan rezeki beliau...
Ya Rahman ya Rahim...
Sayangi beliau dan balaslah segala perjuangan beliau dengan sebaik-baik balasan...
Aamiin...
Senin, 07 Maret 2011
Ku Ingin Mengabdi
Tapak-tapak masih terjejak di bumi-Mu
Peluh-peluh masih menetes
raib terserap benang terpintal rapi
Akal masih terus memutar menelurkan gagasan
Bumi menjadi saksi jejaknya
Langit menjadi saksi atas ikhlasnya menerima guyuran hujan dan terik mentari
Siang saksi kiprahnya
Malam saksi terjaganya mata dari lelap untuk Rabb dan umat
Adakah cita dalam setiap langkahnya?
Ada harapkah dalam setiap munajatnya?
Ada akhirkah untuk pengabdiannya?
Izinkanku mengabdi...
Pondok Benda, 8 Maret 2011
Peluh-peluh masih menetes
raib terserap benang terpintal rapi
Akal masih terus memutar menelurkan gagasan
Bumi menjadi saksi jejaknya
Langit menjadi saksi atas ikhlasnya menerima guyuran hujan dan terik mentari
Siang saksi kiprahnya
Malam saksi terjaganya mata dari lelap untuk Rabb dan umat
Adakah cita dalam setiap langkahnya?
Ada harapkah dalam setiap munajatnya?
Ada akhirkah untuk pengabdiannya?
Izinkanku mengabdi...
Pondok Benda, 8 Maret 2011
Senin, 06 Desember 2010
Goresan 1 Muharam 1432 H
Kerinduan itu kian menguat, dalam rentang hitungan detik bergulir...
Rabb...
Begitu melimpah ibroh dan hikmah menghampiri,
akan datangnya sebuah masa,
akan tergapainya cita setinggi,
akan terwujudnya juntaian asa..
Silih berganti jejak mentari dan rembulan semakin mendekatkan jauh tatapan dalam tapak-tapak tertoreh, diantara guliran waktu dan arah, akan sebuah muara kehidupan.
Mata pelajaran yang terus berganti hari demi hari, kian menyempurnakan kurikulum sekolah kehidupan, saat bab berganti bab menghamparkan sudut pandang hidup tercerah, dalam balutan hujjah guru-guru kehidupan buah karunia sang 'Alim..
Jarum itu masih berputar, berdetak, mengiringi degup jantung, sabar menanti hingga saatnya tiba, sabar mendampingi sampai masa itu datang, berkolaborasi dengan sisi-sisi dan elemen hidup menyempurnakan titah..
Kini, nampak warna-warna memudar, alam memucat, helai-helai memutih, menghitung mundur bilangan mengecil, kian dekat rasanya...
Pd. Pinang, 1 Muharram 1432 H
Rabb...
Begitu melimpah ibroh dan hikmah menghampiri,
akan datangnya sebuah masa,
akan tergapainya cita setinggi,
akan terwujudnya juntaian asa..
Silih berganti jejak mentari dan rembulan semakin mendekatkan jauh tatapan dalam tapak-tapak tertoreh, diantara guliran waktu dan arah, akan sebuah muara kehidupan.
Mata pelajaran yang terus berganti hari demi hari, kian menyempurnakan kurikulum sekolah kehidupan, saat bab berganti bab menghamparkan sudut pandang hidup tercerah, dalam balutan hujjah guru-guru kehidupan buah karunia sang 'Alim..
Jarum itu masih berputar, berdetak, mengiringi degup jantung, sabar menanti hingga saatnya tiba, sabar mendampingi sampai masa itu datang, berkolaborasi dengan sisi-sisi dan elemen hidup menyempurnakan titah..
Kini, nampak warna-warna memudar, alam memucat, helai-helai memutih, menghitung mundur bilangan mengecil, kian dekat rasanya...
Pd. Pinang, 1 Muharram 1432 H
Selasa, 16 November 2010
IBU UNTUK MEREKA... ???
Uhuk.. uhuk.. uhuk... terdengar batuk yang tak kunjung berhenti, sesekali air liur keluar bersamaan dengan suara batuknya, namun tak terhiraukan oleh siapapun, bahkan orang-orang yang berada didekatnya.
Ya Rabb... ia sedang sakit, apakah tak terasa olehnya? wajahnyapun tampak pucat, dimana orang tuamu nak?
Dalam udara dingin sehabis hujan seperti ini, seharusnya kau ada di rumah nak, tidak di kolong jembatan berbalut asap dan bisingnya kendaraan...
Ya Haafidz...
Lindungi mereka...
Batuk masih saja terdengar, meski kendaraan yang saya tumpangi semakin menjauh dan akhirnya batuk sang gadis cilik menghilang tertelan klakson dan suara deru kendaraan.
Rabbi...
Perempuan mana yang tega melihat seorang anak berada di pinggir jalan dalam dingin seperti ini?, siapapun mungkin tak akan tega melihatnya, apalagi jika mendengar batuknya.
Tapi hal ini sepertinya bukanlah pemandangan aneh di negeri tercinta ini, bukan sekali ini saya dengar, bukan sekali ini pula saya melihatnya, tapi inilah pemandangan yang sangat tidak ingin saya melihatnya.
Ingin saya menjadi ibu untuk mereka? sebagaimana saya menjadi ibu bagi murid-murid saya... Gadis cilik itu butuh seorang yang dapat mengelus dadanya untuk meredakan batuk, memberinya minum dan obat untuk menghilangkan sakit, dan memeluknya untuk memberinya kenyamanan.
Ya Rahmaan...
Anugerahkan yang terbaik untuknya...
Maaf nak,
saya belum bisa berbuat apa-apa saat ini untuk kamu...
Maafin saya duhai gadis cilik nan jelita...
Semoga Allah akan menjagamu dengan kekuatanNya...
Aamiin...
Ketika malam datang mencekam
kulihat si alif kecil yang malang
duduk tengadah kelangit yang kelam
meratapi nasib diri
Kilat menyambar, hujanpun turun
semakin basah hatinya yang resah
kapankah semua ini kan berakhir
di jalanan penuh duri
Ya Allah... Tunjukkan jalanmu
pada si alif kecil
agar ia dapat menahan cobaan dan rintangan
yang datang menghadang
Ya Allah...
kuatkan hati pada si Alif kecil
Ya Rabb... ia sedang sakit, apakah tak terasa olehnya? wajahnyapun tampak pucat, dimana orang tuamu nak?
Dalam udara dingin sehabis hujan seperti ini, seharusnya kau ada di rumah nak, tidak di kolong jembatan berbalut asap dan bisingnya kendaraan...
Ya Haafidz...
Lindungi mereka...
Batuk masih saja terdengar, meski kendaraan yang saya tumpangi semakin menjauh dan akhirnya batuk sang gadis cilik menghilang tertelan klakson dan suara deru kendaraan.
Rabbi...
Perempuan mana yang tega melihat seorang anak berada di pinggir jalan dalam dingin seperti ini?, siapapun mungkin tak akan tega melihatnya, apalagi jika mendengar batuknya.
Tapi hal ini sepertinya bukanlah pemandangan aneh di negeri tercinta ini, bukan sekali ini saya dengar, bukan sekali ini pula saya melihatnya, tapi inilah pemandangan yang sangat tidak ingin saya melihatnya.
Ingin saya menjadi ibu untuk mereka? sebagaimana saya menjadi ibu bagi murid-murid saya... Gadis cilik itu butuh seorang yang dapat mengelus dadanya untuk meredakan batuk, memberinya minum dan obat untuk menghilangkan sakit, dan memeluknya untuk memberinya kenyamanan.
Ya Rahmaan...
Anugerahkan yang terbaik untuknya...
Maaf nak,
saya belum bisa berbuat apa-apa saat ini untuk kamu...
Maafin saya duhai gadis cilik nan jelita...
Semoga Allah akan menjagamu dengan kekuatanNya...
Aamiin...
Ketika malam datang mencekam
kulihat si alif kecil yang malang
duduk tengadah kelangit yang kelam
meratapi nasib diri
Kilat menyambar, hujanpun turun
semakin basah hatinya yang resah
kapankah semua ini kan berakhir
di jalanan penuh duri
Ya Allah... Tunjukkan jalanmu
pada si alif kecil
agar ia dapat menahan cobaan dan rintangan
yang datang menghadang
Ya Allah...
kuatkan hati pada si Alif kecil
Senin, 15 November 2010
CITA
KEIMANAN adalah senjata yang memperkuat kita, menjadikan kita tetap sabar dan tetap kokoh, serta menenangkan hati bahwa masa depan memang untuk Islam
Kita harus sabar dan melipatgandakan kesabaran hingga janji yang kemenangan dari Allah akan terwujud Insya Allah...
Kematian itu datangnya tiba-tiba, maka persiapan bertemu Allah harus dilakukan untuk menyongsong pengadilan di akhirat. Ikhlaskan niat dalam semua amal perbuatan dan jadikan ia sebagai bagian dari dakwah ilallah, ibadah kepada Allah, karena kita tidak di ciptakan kecuali untuk beribadah kepadaNya.
Setiap kali tahun lewat dan peristiwa silih berganti, keyakinan kita semakin bertambah akan jalan ini, untuk merealisasikan tujuan kita yang agung, jalan yang panjang dan melelahkan, namun tidak ada jalan lain selain Islam dan serasa semakin dekat dengan KEMENANGAN..
(Syekh Mustafa Masyhur)
Kita harus sabar dan melipatgandakan kesabaran hingga janji yang kemenangan dari Allah akan terwujud Insya Allah...
Kematian itu datangnya tiba-tiba, maka persiapan bertemu Allah harus dilakukan untuk menyongsong pengadilan di akhirat. Ikhlaskan niat dalam semua amal perbuatan dan jadikan ia sebagai bagian dari dakwah ilallah, ibadah kepada Allah, karena kita tidak di ciptakan kecuali untuk beribadah kepadaNya.
Setiap kali tahun lewat dan peristiwa silih berganti, keyakinan kita semakin bertambah akan jalan ini, untuk merealisasikan tujuan kita yang agung, jalan yang panjang dan melelahkan, namun tidak ada jalan lain selain Islam dan serasa semakin dekat dengan KEMENANGAN..
(Syekh Mustafa Masyhur)
Sang Inspirator
Pak Dirman… Senang saya menyebut beliau dengan sapaan Pak Dirman, sosok yang mulai ada dalam kamus kehidupan saya dan ternyata beliau pun orang yang saya pilih menjadi salah satu motivator dan inspirator dalam perjalanan hidup saya, saya mengenal beliau sewaktu saya duduk dibangku SD, sewaktu wajah beliau ada dalam cover buku pelajaran saya, PSPB (lupa apa kepanjangannya)
Tandu, benda yang mengingatkan saya pada beliau, seorang ksatria bertubuh ringkih yang pantang menyerah meskipun hidup hanya ditemani satu paru-paru (paru-parunya yang lain sudah tak berfungsi), kala sang dokter memintanya untuk berhenti bergerilya dan kembali ke kota, seorang ajudannya berkata :” jangankan saya, perintah presiden saja (agar beliau tinggal di kota untuk pemulihan) tidak ditanggapi”…

Duhai pahlawan…Sebegitu besarkah tekadmu untuk meraih cita-cita bangsa ini?
Sebegitu cintakah kau pada perjuangan ini?
Tidakkah kau merasakan sakit pada fisikmu?
Ada rasa ingin berjumpa beliau, ada keinginan berbincang dan bertukar fikiran dengan beliau, ada harap mendengar kisah perjuangan dari lisan beliau , tapi sinetron tentang beliau yang diperankan cucu beliau Ganang Priyambodo, cukuplah mengobati keinginan tersebut, karena keinginan dan harapan-harapan saya adalah hal yang sulit untuk terwujud, yah tak ingin tertinggal walau satu episode pun (lupa, SD atau SMP ya?)
Hari ini sebuah buku mengingatkan saya pada beliau, sehingga ingin saya memutar kembali memori tentang beliau dalam tulisan ini, yang begitu saya ingat tentang kisah beliau, sewaktu salah seorang pasukan meminta beliau mencari dana untuk membiayai peperangan dengan meminta pada rakyat, tapi apa kata beliau : “ tak seharusnya kita menambah beban rakyat dengan meminta mereka membiayai perang, pergilah kau ke Yogyakarta dan mintalah pada isteriku”…
Sang isteri menyambut utusan suaminya bertanya-tanya adakah sesuatu terjadi dengan suaminya, sang utusan menyampaikan titah panglima meminta perhiasan yang masih disimpan untuk membiayai perang, sang isteri pun tanpa ragu menyerahkan semua perhiasannya.
Subhanallah…
Wahai pahlawan…
Hijrah Rasulullah menjadi semangat bagimu, bahwa perjuangan ini tak akan pernah berhenti,seberapa berat dan besarnya tantangan yang kan dihadapi.
Tanggung jawabmu sebagai pejuang yang tak pernah surut, semoga akan terus terpatri dan menjadi inspirator bagi sukma ini.
Tandu, benda yang mengingatkan saya pada beliau, seorang ksatria bertubuh ringkih yang pantang menyerah meskipun hidup hanya ditemani satu paru-paru (paru-parunya yang lain sudah tak berfungsi), kala sang dokter memintanya untuk berhenti bergerilya dan kembali ke kota, seorang ajudannya berkata :” jangankan saya, perintah presiden saja (agar beliau tinggal di kota untuk pemulihan) tidak ditanggapi”…

Duhai pahlawan…Sebegitu besarkah tekadmu untuk meraih cita-cita bangsa ini?
Sebegitu cintakah kau pada perjuangan ini?
Tidakkah kau merasakan sakit pada fisikmu?
Ada rasa ingin berjumpa beliau, ada keinginan berbincang dan bertukar fikiran dengan beliau, ada harap mendengar kisah perjuangan dari lisan beliau , tapi sinetron tentang beliau yang diperankan cucu beliau Ganang Priyambodo, cukuplah mengobati keinginan tersebut, karena keinginan dan harapan-harapan saya adalah hal yang sulit untuk terwujud, yah tak ingin tertinggal walau satu episode pun (lupa, SD atau SMP ya?)
Hari ini sebuah buku mengingatkan saya pada beliau, sehingga ingin saya memutar kembali memori tentang beliau dalam tulisan ini, yang begitu saya ingat tentang kisah beliau, sewaktu salah seorang pasukan meminta beliau mencari dana untuk membiayai peperangan dengan meminta pada rakyat, tapi apa kata beliau : “ tak seharusnya kita menambah beban rakyat dengan meminta mereka membiayai perang, pergilah kau ke Yogyakarta dan mintalah pada isteriku”…
Sang isteri menyambut utusan suaminya bertanya-tanya adakah sesuatu terjadi dengan suaminya, sang utusan menyampaikan titah panglima meminta perhiasan yang masih disimpan untuk membiayai perang, sang isteri pun tanpa ragu menyerahkan semua perhiasannya.
Subhanallah…
Wahai pahlawan…
Hijrah Rasulullah menjadi semangat bagimu, bahwa perjuangan ini tak akan pernah berhenti,seberapa berat dan besarnya tantangan yang kan dihadapi.
Tanggung jawabmu sebagai pejuang yang tak pernah surut, semoga akan terus terpatri dan menjadi inspirator bagi sukma ini.
Langganan:
Postingan (Atom)