Label

Selasa, 06 April 2010

MAKNA SEBUAH FOTO



Sang kakek...
Sepuhnya usia sang kakek merupakan sinyal, sepanjang dan selama itulah beliau bergumul dalam arena perjuangan, bergelut dalam suka duka perjuangan yang membuatnya semakin jatuh cinta dan enggan untuk mundur...
Kita belumlah setua usia sang kakek, namun akan terus berjuang menapaki kehidupan ini seperti sang kakek mempertahankan negeri Palestina. 30 akan belajar dari kekuatan, hamassah, kearifan dan militansi sang kakek...

Manusia dengan fisik berbeda dari orang kebanyakan...
Fisiknya bukanlah gambaran dari siapa dan seperti apa dirinya, fisiknya yang mungkin bagi sebagian orang banyak menjadikan orang-orang seperti beliau patut dikasihani, tapi beliau mampu (atas seizinNya) membuat si kerdil israel tak bisa tidur...
Kadang kita merasa memiliki banyak keterbatasa dalam diri kita, namun insya Allah tak akan menjadikan para pejuangnya 'pejuang-pejuang kerdil kehidupan' yang menyerah sebelum all out berjuang, karena syekh Ahmad yassin telah membuktikan keterbatasan beliau takkan pernah membuatnya melangkah mundur...

Senyum...
Siapapun mengetahui, siapapun merasakan bagaimana besar dan beratnya tribulasi yang beliau hadapi dalam membebaskan palestina dari zionis, tapi senyum yang mendamaikan tetap terkembang, melambangkan ketenangan, keoptimisan dan keyakinan akan akhir sebuah kemenangan, dan senyumnya adalah lambang kekuatan hatinya.
K ita harus tetap tersenyum ya... :)

Anak-anak...
Gigihnya perjuangan beliau salah satunya untuk mempertahankan senyum bocah-bocah di sekelilingnya menjadi sebuah negara palestina merdeka, lihat senyum mereka manis-manis kan ??
Masih banyak senyum-senyum penantian di setiap sudut kehidupan yang akan menghantarkan mereka memaknai kehidupan dan menyelami indahnya islam.. tak kalah manis dengan bocah-bocah di samping syekh... :)

sumber foto: www.harakatuna.wordpress.com

Selasa, 23 Februari 2010

BUNGA KELABU

"Bunganya bagus..."
Reflek ia menoleh dan tersenyum malu sambil berkata "ah... biasa aja kok"
Pemandangan itu memang menarik perhatian, siapapun yang duduk disampingnya pasti dapat melihat goresan-goresan pensil yang berbentuk bunga, bunga yang berwarna abu-abu karena digambar menggunakan pensil.
Entah sepertinya hal itu telah menjadi kebiasaannya, mengambar bunga di kertas, setiap catatan kuliah, buku, maupun lembaran-lembaran foto cpy selalu terdapat gambar bunga dan dalam berbagai kesempatan, sepertinya hal itu reflek tanpa di sadari. Bunganya,mmm... seperti melati, simbol dari namanya...

Akhirnya tanda tanya dan rasa penasaran itu terjawab, bunga yang menggambarkan kerinduan dihatinya...
Ada keinginan dan kerinduan jika ia berulang tahun, kerinduan sebuah hadiah atau kado... Keinginan yang begitu sederhana, kado yang siapapun dapat memberikannya, bunga... yah bunga meskipun hanya setangkai, walaupun itu hanya bunga-bunga liar yang terdapat di pinggir-pinggir jalan,namun belum ada seorangpun yang melakukannya,padahal begitu sering ia mendapat kado baik dari keluarga atau teman-temannya, tapi belu ada kado yang berupa bunga...
Keinginan itu tak pernah terungkapkan, sampai suatu ketika seorang sahabat yang ia kenal di bangku SMA, menanyakan " ingin kado apa ulang tahun nanti?"
kita semua pasti sudah mengetahui jawabannya... B.U.N.G.A...

Sebelum hari ulang tahunnya tiba, ia harus berpisah dengan sahabatnya yang di terima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, dan harapan itu sampai saat ini hanya menjadi harapan. Terlebih ketika ia sudah kehilangan kontak dengan sahabatnya.
Keinginan dan harapan itu masih terus dinantinya, kerinduan itu masih bersamanya, mungkin bunga itupun masih akan terus berwarna kelabu sampai ada yang memberinya bunga sebagai kado di hari ulang tahunnya.

Mulai saat ini cobalah tanyakan keinginan orang-orang terdekat kita, karena tidak semua orag mampu mengungkapkannya.
Semoga suatu hari bunga itu akan berwarna emtah itu merah, kuning, putih atau yang lainnya.
Tenang dan bersabarlah, kelak akan ada yang memberimu bunga dihari ulang tahunmu. karena saat ini keinginan itu sudah terungkap.

Rabu, 23 Desember 2009

KAIFA HALUK YA NAFSIY???

Segala puji hanya milik Allah sholawat dan salam teriring pada Rasulullah SAW

Kaifa haluk... kalimat yang serimg terlontar saat kitra bertemu dengan rekan dan saudara kita untuk menanyakan tentang keadaannya dan kalimat itu senantiasa tertuju kepada pihak kedua (kamu)

Namun dikesempatan ini ,mari kita coba gunakan kalimat itu untuk diri kita sendiri.. Kaifa haluk ya nafisy??? (apa kabar wahai diriku?)

Setiap kita tentu kenal dengan kondisi diri kuta itulah firman Allah "Balil insanu 'ala nafsihi bashiroh" Dan dengan pengetahuan yang cukup akan diri kita,maka jawablah wahai diriku...

Kaifa haluk?... apa kabar?... masihkah kekuata iman menghujam dalam jiwamu? apa yang menghalangiumu untuk menambah iman? Apa yang memberatkanmu datang ke majelis2 iman? apakah kamu sudah merasa yakin bahwa dirimu akan selamat dengan prestasi ala kadarnya? Masihkah ada komitmen dengan janji yang kau ikrarkan setiap hari dihadapan rabb mu bahwa" sesungguhnya sholatku,ibadahku,hidupku dan matiku hanya untuk Allah? atau seluruh potensi dan waktumu hanya kau habiskan untuk membangun kebesaran dunia? Ayo jawab wahai diriku....

Andaikata seluruh rangkaian hidupmu kamu catat sendiri dan di penghujungtahun ini kau audit buku hidupmu, pasti kau akan temui wahai diriku, betapa banyak amanat yang tidak kamu tunaikan,betapa banyak kewajiban yang kamu terlantarkan, betapa banyak hak2 yang kamu abaikan betapa banyak nikmat yang kau kufuri, betapa banyak ibadah yang kau sia2kan.. betapa banyak... betap banyak..
dengar wahai jiwaku " iqro kitaabak kafaa binafsikalyauma 'alaika hasiiba" *(bacalah catatanmu, maka cukuplah dirimu yang akan menghitung amalmu)

Kifa haluk... Apa kabar wahai diriku..? Lihatlah ummat di sekelilingmu telah menunggumu..! Adakah uluran tangan kebaikanmu telah menyentuh saudaramu? adakah sepatah kata tausiyahmu telah terucap? Adakah perbuatanmu dan titahmu telah menjadi qudwh dan pendorong kebaikan? Adakah ilmumu telah menerangi saudaramu dari kegelapan? Adakah tampilan akhlakmu telah menjadi cerminbagi saudaramu?...

Ataukah kamu.. wahai diriku,sampai saat ini dan detik ini... masih sibuk dengan diri sendiri? Apakah belenggu kesibukan dunia menghimpitmu sedemikian rupa sehingga kamu tak sempat berbuat apa2?..

Kaifa haluk... Apa kabar wahai diriku?.. sudah saatnya kau menatap luasnya cakrawala kehidupan yang sesungguhnya, tiba saatnya kamu memerdekakan diri dari belenggu diperbudak dunia, sudah saatnya kamu membebaskan diri dari kejahatan sistem hidup yang mengitarimu menuju keadilan sistem islam, sudah saatnya wahai diriku kamu berbicara dan berbuat agar ada perubahan... Innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiru maa bi anfusihim.

(Ust. Ibnu Jarir, Lc. M.Pdi.)

Senin, 14 Desember 2009

BUNDA-BUNDA PERKASA

Matahari menyembul menyapa setiap pandududk bumi dengan kehangatannya
Menghantarkan para bunda keluar dari istananya
dengan berbagai ekspresi wajah tertampak
namun tetap terhias senyum manis mereka menyambut, setiap senyum yang menyapa

Hhmm... Pagi yang indah...
Berangkatlah para bunda,
mendorong gerobak sayurnya,
menggendong bakul jamunya,
menjinjing barang dangangannya,
mengayuh sepedanya,
dan menjejak setiap tapak kakinya

" Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah "
Yah... tak berlebihan jika sang penggubah lagu menuliskan syair tersebut, entah berapa ribu kilo langkah para bunda tersebut melangkah selama bertahun-tahun (Semoga setiap tapak yang terjejak dan tanah yang di pijak akan menjadi saksi akan perjuangan mereka kelak.. amin..)

Bukan salah mereka
Jika belum dapat mendampingi putra putrinya,
Bukan salah mereka
jika di usia yang menapak senja baru mulai mengeja huruf demi huruf

Tak ada yang harus membuatmu malu wahai bunda...
Dunia mungkin tak menghirau keberadaanmu
Dunia mungkin tak peka dengan keadaanmu
Dunia mungkin belum mampu meringankan bebanmu
Namun, sang Maha Penyayang akan tetap bersamamu,
mendampingi setiap langkah kakimu
mendengar setiap keluh dan menatap setiap peluhmu
sang Maha Lembut telah menyiapkan sebuah tempat terindah yang tak ada bandingannya di dunia ini
Bersabarlah wahai bunda...

(Bersyukurlah para bapak dan ibu guru, di sekolah-sekolah, TPA-TPA dan dimanapun, yang telah Allah amanahkan untuk membantu para bunda mendampingi dan mendidik putra putri mereka.
Bahagia itu saat kita mampu merasakan orang lain bahagia
Bahagia itu saat Allah memilih kita menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain
Bahagia itu saat diri dapat membuat orang lain bahagia
Seberapapun, apapun yang kita miliki, pasti ada yang dapat membuat orang lain bahagia... pasti... )

Matahari mulai menjorok ke barat, tetap setia mendampingi bunda-bunda kembali ke rumahnya, bertemu dengan orang-orang terkasih dan tercinta.
Orang-orang yang dapat membuat wanita lembut seperti mereka menjadi perkasa
Orang-orang yang mampu membuat mereka bertahan dengan berbagai kesulitan
Orang-orang yang kan menumbuhkan harapan bagi mereka
Orang-orang yang bisa menggoreskan senyum terindah untuk bunda-bunda perkasa... :)

RENUNGAN

YANG BERLALU

Tahun demi tahun berlalu
Bulan, minggu, hari, jam, menit
bahkan detik
perlahan meninggalkanku
Seraya berkata
jangan kau ulangi lagi
jangan kau sia-siakan lagi
dan jangan sampai kau menyesal
karena dia semakin dekat, dekat, terlalu dekat


Sabtu, 21 November 2009

SANG FARIS

Hentakan tapak kuda
Menghujam di kegersangan sahara
Semburan debu padang pasir
membumbung mengaburkan pandangan

Kelebat terjangan kuda
berpacu bersama gemuruh detak jantung
bermandikan peluh
berbasuh panas sang surya

Berbekal panji-panji ilahi
Tergenggam pedang berkilat
Terus melangkah maju
menghadang kemungkaran

Tak peduli indahnya sang mawar
Tak teringat gemerlapnya permata
hanya satu puncak tujuan
syahid fi sabilillah

Si durjana di hadapan
tak ada kata mundur walau selangkah
Denting pedang berbenturan
memancarkan darah suci

Semerbak harum teriring senyum sang surya
menghantarkan sang faris
menghadap Rabb nya
menjemput bidadari


(Terinspirasi dari kisah "benteng-benteng hidup" Rasulullah dalam perang uhud)
Al Faris= penunggang kuda

" ASA "

Sang surya kembali menyingsing
kegelapan sirnalah sudah
kehadirannya membuka mata-mata yang lelap
kedatangannya menggerakkan sendi-sendi yang lunglai

Tegaklah jasad-jasad tak berdaya
dengan seizinNya
membawa sinar
dengan senyum
dalam asa...